TJOKROCORNER, ESAI - Saya mengamati, setidaknya selama kurang lebih dua tahun terakhir, ada suatu komunitas pemikiran yang menarik, yaitu anak-anak muda dari berbagai provinsi di Indonesia, dengan latar belakang akademik yang beragam, dari S1 hingga S3, bahkan ada profesor dan rektor suatu perguruan tinggi, bertemu dalam satu ruang dialog yang sama. Mereka menyatu dalam forum kajian pemikiran H.O.S. Tjokroaminoto.
Fenomena yang menarik, setidaknya di 3 forum yang saya ikuti di berbagai kampus besar dan di beberapa kota, dengan semangat keterbukaan dan menunjukkan ketertarikan dan keterikatan mereka secara emosional. Namun demikian diskusi tetap berlangsung rasional, berbasis data, dan jauh dari sikap apologetik.
Mereka berbicara dengan ketelitian akademik, sekaligus dengan gairah ideologis yang terasa hidup. Program Azas dan Program Tandhim tidak hanya mereka kenal, tetapi dihafal, dipahami, dan didiskusikan secara mendalam, sesuatu yang justru, maaf belum atau saya belum pernah mengikutinya selama 15 tahun ditemukan dalam lingkungan yang secara historis merasa paling dekat dengan warisan itu sendiri seperti di SI Indonesia.
Mereka datang dengan cara pandang yang positif terhadap sejarah dan perjuangan Islam, serta penuh penghargaan terhadap pemikiran para tokohnya. Namun, penghargaan itu tidak membuat mereka berhenti pada romantisme. Justru dari situlah lahir keberanian untuk mengkritik, mempertanyakan, dan menafsirkan ulang secara jernih.
Hal yang luar biasa, hasil kajian dan diskusi mereka rumuskan menjadi buku-buku. Mereka terbitkan dan sebarkan.
Saya pun bertanya dalam hati, jika para pelaku dan bagian dari organisasi SI Indonesia yang merasa mewarisi sejarah dan pemikiran itu hadir dalam forum ini, kira-kira apa ya yang mereka rasakan, terinspirasi, terusik, atau justru tersadarkan?
Cianjur, 12 April 2026
Nunung Kaniawati, S.Pd., M.Pd. aktivis SII Jawa Barat, pendidik, trainer, penulis buku Bahasa Kalbu.






Posting Komentar