TJOKROCORNER, ESAI - Setiap kita yang lahir ke dunia dianugerahi potensi untuk mengetahui, mempercayai dan lalu meyakini sesuatu. Potensi inilah yang kemudian kita kenal sebagai akal, dan buah keyakinan itu kita namai dengan istilah iman. Iman, sepenggal kata sederhana yang di baliknya tersimpan kekuatan yang menggerakkan, serta kedalaman makna tak terhingga yang mencakup seluruh realitas secara komprehensif.
Dalam berbagai tradisi, iman sering diposisikan berseberangan secara diametral dengan rasio. Bahwa nilai-nilai iman adalah hal tak terjangkau oleh rasionalitas pikiran dan daya inteleksi, sehingga selayaknya diterima begitu saja sebagai kebenaran yang bersifat an sich dan tak patut dipertanyakan. Pandangan ini mengakibatkan iman terkadang dianggap menghambat pengetahuan, bahkan sebagai musuh kemajuan ilmu dan teknologi.
Menghadapi 'konflik' tak berkesudahan tersebut, perspektif berbeda coba ditawarkan oleh seorang filsuf dan teolog asal Denmark yang juga dikenal sebagai Bapak Eksistensialisme, Søren Kierkegaard. Menurut Kierkegaard, iman dan rasio bukanlah dua posisi yang harus berdiri berhadap-hadapan, iman lebih jauh, merupakan lompatan yang melampaui dan berdiri di depan rasio, semacam leap of faith.
Baginya Kierkegaard, iman adalah segumpal keberanian untuk meyakini sesuatu yang tidak sepenuhnya bisa dijelaskan oleh logika dan intelektualitas. Tetapi justru di sinilah letak keistimewaan dari iman, menjadi jembatan antara yang terbatas dan yang tak terbatas. Iman bukanlah setumpuk dogma kering dan membeku, ia adalah entitas hidup yang melingkupi seluruh dimensi kemanusiaan.
Dalam perspektif Islam, secara etimologis iman berasal dari bahasa Arab amana-yu'minu-imanan yang berarti meyakini, membenarkan, dan/atau memberi rasa aman. Sesuatu yang bila diyakini dan diterima sepenuhnya sebagai kebenaran tanpa pretensi, akan memberi rasa tenang, rasa aman, dan kebahagiaan yang membuncah. Meski tetap harus disadari bahwa makna iman tidak berhenti sekadar meyakini di dalam benak.
Iman adalah juga energi yang meresap hingga ke relung hati yang terdalam bahkan tergelap sekalipun, ia menggetarkan jiwa yang paling halus nan paling renik, dan bahkan pada akhirnya imam akan membentuk cara kita memandang dan lalu merespon realitas. Iman bergerak secara simultan dari setumpuk ide-ide reflektif ke laku yang praxis, ia membentuk realitas sosial dan mendasari tindakan kita sehari-hari.
Para ulama muslim mendefinisikan iman sebagai konsep yang meliputi tiga dimensi: pengakuan dalam hati (tasdiq bi al-qalb), diucapkan dengan lisan (iqrar bi al-lisan), dan dibuktikan melalui perbuatan (amal bi al-arkan). Definisi ini menegaskan bahwa iman bekerja pada tiga aspek kehidupan manusia: kognitif (pemikiran), afektif (perasaan), dan psikomotorik (tindakan).
Selain itu, iman juga berfungsi sebagai narasi besar yang memberi makna pada kehidupan manusia yang menerimanya. Di saat seseorang memeluk iman, ia akan memiliki kerangka interpretasi atau perspektif untuk memahami peristiwa dan kejadian yang dia alami dalam hayatnya. Peristiwa tak lagi sekadar serpihan acak, tetapi merupakan sulaman realitas yang utuh dan bermakna.
Pada konteks ini, iman menjadi cermin yang membantu manusia melihat dirinya sendiri dan realitas di luar dirinya dengan lebih bening dan jernih. Hasrat manusia untuk memahami lebih dalam tentang eksistensi dirinya di tengah eksistensi alam semesta serta segala sesuatu yang ada, terpantik oleh iman. Manusia tak hanya menyadari keberadaanya dalam dunia, tapi juga menghayati makna keberadaannya bersama dunia.
Kala manusia merangkul iman sedemikian, ia mengakui keberadaan realitas transenden di luar dirinya, eksistensi yang tak terjelaskan oleh fisika, sesuatu yang bersemayam di jantung metafisika, keberadaan yang menjadi sebab bagi keberadaan dirinya bersama dunia. Ini semacam persaksian yang paradoks, karena di saat mengakui keberadaan zat adikodrati tersebut, manusia tercelup pada pemahaman yang lebih baik tentang eksistensinya.
Di kalangan kaum arifin, para penempuh jalan spiritual dan penyucian jiwa, dikenal sebuah adagium 'man 'arafa nafsahu, faqad arafa rabbahu'. Sebuah kalimat puitis yang bermakna tak kalah syahdunya, 'sesiapa yang mengenal dirinya, akan mengenal Rabb-nya'. Dengan menyadari bahwa dirinya bukanlah pusat kosmik, ia akan menyadari posisi autentiknya dalam tatanan alam semesta.
Dengan menyadari itu, iman akan menuntun dan mengarahkan manusia untuk mengkonstruksi bangunan kesadaran diri melalui seperangkat nilai untuk mengukur apakah pikiran, perkataan, dan perbuatannya telah sejalan dengan prinsip imannya atau tidak. Ia tidak lagi hidup dalam kebingungan dan keraguan, karena iam menjadi panduan untuk membedakan yang benar dan salah, yang baik dan buruk. Atau dalam bahasa yang lebih agamis, disebut syari'ah.
Saat menyadari posisinya yang profan, iman lalu menumbuhkan kepekaan, kerinduan, bahkan kebutuhan terhadap kehadiran Yang Sakral dalam seluruh aspek kehidupan. Hal ini mengubah setiap serpih pengalaman hidupnya menjadi momentum perjumpaan yang penuh makna, atau para pendakwah menyebutnya ibadah. Ketika setiap helaan napas, setiap derap langkah, setiap detak jantung menjadi temali kukuh yang menghubungkan dengan realitas transenden.
Iman yang diimplementasikan dalam ibadah, menjadi sarana yang mengantarkan manusia pada puncak pengalaman transendensi atau mikraj. Ia menjadi anak kunci untuk membuka pintu kemenyatuan kosmik, di mana manusia sebagai mikro kosmik nan profan diri tercelup dalam samudera makna (sibgah Allah). Inilah kesadaran diri tertinggi, saat manusia dengan panduan iman beranjak melampaui egonya dan melebur dengan Yang Sakral.
Tetapi, semua tak berhenti di situ, mukmin sejati tidak boleh mandek dan terjebak atau hanya dalam kontemplasi dan momentum kemenyatuan yang statis. Imam menjadi daya dorong yang menggerakkan orang beriman untuk beranjak dari heningnya perenungan menuju riuhnya aksi nyata. Sejarah mencatat bagaimana para nabi dan orang beriman yang saleh tidak berhenti di peristiwa mikraj, mereka kembali membumi dan menjadi penggerak perubahan sosial.
Iman menggerakkan mereka dan memberi keberanian untuk menghadapi risiko dalam perjuangan menegakkan nilai-nilai yang diyakini. Sepanjang sejarah, para nabi dan orang beriman yang saleh telah membuktikan bagaimana iman menjadi motor penggerak perubahan dan bahkan revolusi sosial. Mereka bertindak dan mengubah keadaan bukan karena iming-iming duniawi, mereka digerakkan oleh iman yang menggelora.
Dalam al Quran, Allah Swt. menunjukkan bahwa bila manusia ingin mengubah kondisinya, maka terlebih dahulu mereka harus mengubah iman dan keyakinannya, "...Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri..." (Ar Ra'ad 13:11). Mereka harus berani meninggalkan iman yang dogmatis dan statis menuju iman yang praxis dan mencerahkan.
Iman yang mencerahkan akan melahirkan kesadaran keagamaan yang inklusif dan toleran, serta terbuka terhadap kebenaran-kebenaran baru, dari mana pun ia berasal dan di mana pun ia ditemukan. Mukmin yang tercerahkan adalah mereka yang berani mengajukan imannya menghadapi ujian nalar, tak takut pada pertanyaan kritis, bahkan menjadikannya sebagai batu tempa untuk makin mengukuhkan imannya.
Iman seperti ini, alih-alih memberi jawaban atas segenap tanya dan keresahan, malah memantik keberanian untuk mempertanyakan berbagai peristiwa sosial yang meresahkan, penuh ketimpangan, dan ketidakadilan. Iman yang praxis ini juga menuntun penganutnya melihat realitas dengan cara baru. Ia ibarat cahaya yang menyingkap tirai kebahagiaan semu dan kemakmuran palsu tanpa distorsi ego dan kepentingan pribadi.
Hahikat tertinggi dari iman yang membangun kesadaran diri adalah pembebasan. Mukmin sejati adalah mereka yang dengan tuntunan iman, terbebas dari beragam belenggu yang mengikat manusia, seperti ketakutan, keserakahan, egoisme, dan keputusasaan. Karena itu, mukmin sejati adalah mereka yang sadar untuk tidak akan pernah memperbudak, justru membebaskan manusia dan kehidupan sosialnya dari sistem yang despotik, dan menindas.
Dengan iman yang sejati ini, manusia terbebas dari bayang-bayang tirani masa lalu dan kecemasan akan masa depan, karena mereka yakin bahwa ada kekuatan transenden Yang Sakral nan Maha Kuasa yang menopang setiap detik kehidupannya. Merek telah menjadi wali-wali Allah, dan "Ketahuilah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati" (Q.S. Yunus 10:62).
Siapakah wali-wali (auliya atau kekasih) Allah itu? Mereka adalah "...orang-orang yang beriman dan senantiasa bertakwa (QS. Yunus 10: 63). Apa yang membuat mereka tak khawatir, tak takut, dan tak bersedih hati? Karena mereka adalah orang-orang yang telah mendapatkan berita gembira (keberkahan dan surga) baik di dunia maupun di akhirat, "Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan di akhirat. Tidak ada perubahan bagi janji-janji Allah. Demikian itulah kemenangan yang agung." (QS. Yunus 10:64).
Para kekasih Allah ini merupakan orang-orang yang memiliki kesadaran diri berlandaskan iman yang hakiki. Merekalah para pemilik kemerdekaan sejati yang telah menemukan panggilan dirinya sebagai pencerah dan pembebas. Lalu buku yang ada di tangan pembaca ini adalah undangan untuk memulai perjalanan, beranjak dari iman yang sekadar dogmatis dan statis menuju kesadaran diri yang utuh dengan iman yang progresif, mencerahkan dan praxis.
Semoga setiap kata dan kalimat dalam buku ini menjadi penuntun setia yang menemani langkah dalam menapaki jalan keimanan hakiki. Jalan para kekasih Allah yang akan mengantarkan kita kembali, pulang pada diri sendiri, pada Yang Sakral, lalu bersama Yang Sakral bergerak mencerahkan dan membebaskan dunia untuk mewujudkan kemerdekaan sejati. Selamat membaca, merenung, menemukan makna, dan menemukan panggilan diri.
Tulisan ini merupakan pengantar buku Dari Iman Menuju Kesadaran Hidup karya Aris Supratman (KBM INdonesia, 2026).
Muhammad Kasman, Ketua Umum PB Pemuda Muslimin Indonesia 2025-2030.






Posting Komentar