Ruang Narasi
SINDIKASI TJOKRO CORNER
Tjokroisme: Monoteisme Dialektika Historis
Jika kalian ingin menjadi pemimpin besar menulislah seperti wartawan dan bicaralah seperti orator - H.O.S. Tjokroaminoto

Berbuka Puasa versi Tjokroaminoto


TJOKROCORNER, ESAI - p
uasa dalam kerangka pemikiran H.O.S. Tjokroaminoto bukan sekadar ritual biologis untuk mengakhiri rasa lapar, melainkan sebuah manifestasi radikal dari kesadaran kelas dan tauhid yang murni.

Dalam narasi Sosialisme Islam, puasa adalah proses dekonstruksi terhadap sifat egoisme manusia yang cenderung menumpuk harta. Ketika waktu berbuka tiba, momen tersebut menjadi simbol kemenangan kolektif di mana setiap individu, tanpa memandang status sosialnya, kembali pada derajat kemanusiaan yang setara.

Tjokroaminoto memandang bahwa esensi Islam adalah kemerdekaan, dan berbuka puasa adalah perayaan atas kemerdekaan manusia dari perbudakan nafsu konsumerisme yang menjadi jantung dari sistem kapitalisme.

Secara filosofis, tindakan berbuka puasa harus dimaknai sebagai penolakan terhadap akumulasi kekayaan yang tidak merata. Tjokroaminoto sering menekankan bahwa dalam Islam, hak milik pribadi dibatasi oleh hak komunitas.

Oleh karena itu, meja makan saat berbuka menjadi ruang dialektika sosial. Jika seorang Muslim berbuka dengan kemewahan yang melampaui batas sementara di luar sana kaum proletar atau mustad'afin masih bergelut dengan kelaparan sistemik, maka nilai sosialisme dalam ibadahnya telah gugur.

Berbuka puasa adalah pengingat bahwa pangan adalah hak dasar yang harus didistribusikan secara adil, bukan komoditas yang hanya bisa dinikmati oleh segelintir elit.

Argumentasi Tjokroaminoto mengenai "Sama Rata Sama Rasa" menemukan bentuk paling konkretnya dalam syariat berbuka. Tidak ada hierarki dalam rasa lapar; lambung seorang bangsawan dan seorang buruh bereaksi dengan cara yang sama terhadap kekosongan.

Dengan demikian, berbuka puasa adalah sebuah "proklamasi kesetaraan" yang menghancurkan sekat-sekat kasta sosial.

Hal ini sejalan dengan visi Sosialisme Islam yang menghendaki masyarakat tanpa penindasan (exploitation de l'homme par l'homme), di mana rasa kenyang yang dirasakan saat berbuka seharusnya memicu empati untuk menghapuskan kemiskinan struktural yang membuat orang lain lapar di luar bulan Ramadan.

Lebih jauh lagi, berbuka puasa dengan filosofi Tjokroaminoto menuntut adanya aksi nyata pasca-Ramadan. Puasa dipandang sebagai kawah candradimuka untuk membentuk kader yang memiliki militansi sosial.

Kesenangan sesaat saat meneguk air dan menyantap hidangan pembuka harus ditransformasikan menjadi energi perjuangan politik dan ekonomi. Bagi Tjokroaminoto, kesalehan individu yang tidak berdampak pada keadilan sosial adalah kesalehan yang lumpuh.

Berbuka adalah titik awal untuk menyusun kekuatan dalam merebut kembali hak-hak rakyat yang terampas, memastikan bahwa sistem ekonomi masa depan tidak lagi membiarkan perut rakyat kosong akibat eksploitasi.

Sebagai penutup, memaknai berbuka puasa melalui kacamata Sosialisme Islam Tjokroaminoto berarti mengakui bahwa spiritualitas tidak bisa dipisahkan dari realitas sosial-ekonomi.

Berbuka adalah tindakan politik yang menegaskan bahwa manusia hanya tunduk pada Tuhan (Tauhid), dan karena ketundukan itulah ia tidak boleh menindas atau membiarkan penindasan terhadap sesamanya.

Dengan demikian, setiap suapan saat berbuka adalah janji setia untuk terus memperjuangkan tatanan masyarakat yang adil, makmur, dan egaliter. Berbuka puasa bukanlah akhir dari perjuangan menahan diri, melainkan awal dari perjuangan memberi dan berbagi demi kesejahteraan bersama.

Share this post :

Posting Komentar

 
Support : Syarikat Islam Indonesia | Pemuda Muslimin Indonesia | KasmanPost
Copyright © 2025 - TJOKRO CORNER - All Rights Reserved
Template by Cara Gampang Published by Cargam Template
Proudly powered by Blogger